RSS Feed

Posted on
BAKSO BEBAS BORAKS< FORMALIN DAN MSG

BAKSO BEBAS BORAKS, FORMALIN DAN MSG

 

 

DINKES P.IRT NO : 167110080580

114 butir/kg, kemasan vakum per 1/2 kg….

 

 

 

 

Seiring dengan bermunculannya penyakit-penyakit “unik” yang sulit terdeteksi, dan ketahuannya ketika sudah parah, akibat konsumsi makanan-makanan instan, ataupun yang makanan yang menggugah selera,namun ternyata banyak mengandung zat2 berbahaya. Masyarakat mulai beralih ke makanan-makanan organik. yang bebas pestisida , pengawet, pewarna, msg, dll.

Walaupun tak bisa dipungkiri konsumen makanan sehat ini masih banyak yang dari kalangan orang-orang sakit, karena harganya yang relatif lebih mahal. misal beras organik, penggemarnya masih dari kalangan penderita diabetes, kanker, dll.

Tapi apakah menunggu sakit dulu kita baru akan beralih ke makanan sehat ?…..yah kalopun berasnya masih beras biasa, bagaimana dengan jajanan yang menggugah selera? bakso misalnya, yang terkenal dengan kandungan pengawet boraks dan formalinnya.

Apalagi untuk konsumsi anak-anak kita, kasihan kan kalo mereka harus banyak mengkonsumsi zat2 berbahaya itu hanya utk memenuhi selera makanannya..

Pengen nyari bakso bebas formalin, boraks, msg, supaya ga was-was kalo dimakan sikecil…apalagi ibu hamil, tapi dimana ??

Sekarang ga perlu bingung lagi…mau cari bakso bebas pengawet bisa pesan kesini ^__^

KANKER PARU-PARU DAN PEROKOK PASIF

Kanker ini sering diketahui setelah kondisinya sudah parah dengan peluang yang sangat kecil untuk sembuh, karena tidak ada gejala dini yang spesifik, bahkan kabarnya jarang yang bisa sembuh dari kanker paru-paru.

Ibuku, ia hidup cukup sehat, sering makan sayur, buah dan kadang-kadang ikut senam dikantor ayah, tidak pernah aku melihat ibu sakit parah, jarang sekali ia sakit, walau hanya demam atau batuk pilek, ia hanya sering merasa pegal-pegal, masuk angin dan sedikit lelah, yang biasanya hilang kalau istirahat, dipijat, dikerik atau minum obat. Ia juga bukan perokok, namun dirumah kami ada 2 orang yang aktif merokok hingga aku hafal dan bisa membedakan merk rokok dari bau asapnya yang sehari-hari tak luput dari penciuman kami.

Hari itu tiba-tiba saja ibu merasa sakit diperutnya, ia pikir mag, tengah malam tiba-tiba saja ibu berteriak-teriak kesakitan dan sesak nafas. Aku tau ibuku…ia jarang mengeluh, tapi kali ini ia seperti tidak mampu menahan rasa sakitnya, katanya seperti ada hewan sebesar kepalan tangan yang mendorong paru-paru kanannya keatas, sakit seluruh badannya seperti disayat-sayat bila disentuh, tak henti-henti ia mengucapkan tahmid dan tahlil…kami semua kebingungan dan panik. Tengah malam, aku dan kakak menggosok tubuh ibu dengan minyak hangat, mengerik punggungnya yang langsung terlihat merah kehitaman bekas kerikan. Tapi ibu masih sesak nafas, lalu kakakku yang pernah belajar totok, menotok punggung ibu, barulah ibu sedikit lega pernafasannya.

Di Rumah sakit ibu didiagnosa sakit mag, harus menginap, menjalani rangkaian tes namun dua dokter yang memeriksanya mendiagnosanya mag saja. Satu bulan dirumah sakit, ibu hanya diinfus, diberi obat mag dan obat tidur, karena rasa sakit yang dideritanya membuatnya tidak bisa tidur. Padahal ketika ia tidur, aku sering memperhatikan tarikan nafasnya yang aneh, seperti orang pneumonia (yang dulu kulihat diiklan layanan masyarakat dengan nafas pendek dan terlihat menekan ulu hati kedalam), hatiku bertanya-tanya …..bagaimana mungkin ia sakit mag dengan nafas seperti itu?. Setelah satu bulan Ibu diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik dengan mengkonsumsi rutin obat penghilang rasa sakit dan mag.

Hari itu aku sudah memasak bubur untuk ibu, bubur yang tidak pernah dimakannya…… ia harus dilarikan lagi ke Rumah Sakit, tapi kali ini kondisinya lebih parah, ia batuk tiada henti, tidak semenitpun, wajahnya terus mngucurkan peluh, ia tidak tidur sama sekali, berhari-hari…., berminggu-minggu.., bahkan ia tidak mampu berbaring, hanya duduk sepanjang hari, siang dan malam, ia diberi obat b*s*lvon suntik dalam infusnya, ia mulai tidak mau makan, tidak bisa minum, minum akan membuatnya merasa sesak. Gula darahnya mulai naik tak terkendali hingga angka 500.

Terkadang ibu meneriakkan tahmid dan tahlil sambil memegang rusuk kanannya, hal itu mengundang perawat untuk datang dan menyuruh ibuku diam karena mengganggu pasien lain……hasil rongten ibu yang kedua menunjukkan ada genangan air yang hampir memenuhi setengah paru-paru kanannya yang harus disedot oleh dokter ahli paru-paru. Namun entah mengapa , aku tak mengerti mengapa dokter paru-paru itu tak kunjung hadir. Setiap hari, aku datang ke post perawat karena ibuku selalu bertanya padaku, kapan dokter datang?..kapan dokter datang?, mengapa ia diabaikan?…mengapa ia tidak diurusi?,tapi perawat selalu bilang,besok, dan besok, hingga beberapa minggu berlalu, setiap hari aku bersamanya , tidak seharipun aku meninggalkannya di Rumah sakit, aku berusaha bersabar dengan pihak Rumah sakit yang terus berjanji, karena ibuku tidak mau dokter lain, ia sudah terlanjur yakin dengan Rumah sakit ini.

Malam itu ..aku melihatnya tertawa kecil dan tersenyum saat kami berbincang. tawa pertama dan terakhirnya semenjak ia sakit. Jam 10 malam akhirnya sang dokter yang telah dijanjikan oleh pihak RS berminggu-minggu lalu datang dengan batik yang masih melekat dibadannya sepulang kondangan, aku diminta menandatangani surat perjanjian tapi aku tidak diberi penjelasan sedikitpun, hanya bila aku tak menandatangani ibuku tidak akan diperiksa. lalu masuklah ibuku keruangan untuk disedot paru-parunya, dari luar aku melihatnya disuruh memeluk bantal sambil duduk, lalu ruangan ditutup, lama kami menunggu diluar, setelah selesai ibuku dikembalikan ke ruangan, ia terlihat sangat pucat dahi dan hidungnya kuning muda, ia tampak lebih lemas dari sebelumnya….”apa ibu lelah? Mengantuk? “, tanyaku.”ya”, jawabnya lirih, dan ia dibaringkan oleh perawat. Aku lega akhirnya ia bisa berbaring.

Diluar, aku menemui dokter, dengan menunduk dokter berkata ..”tumor paru-paru , yang hampir memenuhi paru-parunya bukan air tapi darah “, “kanker paru-paru” katanya lagi, memperbaiki ucapannya tadi, lalu ia berbalik pergi. Aku diam, tak mengerti melihat dokter yang berlalu pergi, “lalu ?”..kataku dalam hati, “bagaimana ??….tak adakah jawaban lain sebagai solusi atau pengobatannya??” , aku bertekad besok aku harus memindahkan ibuku dari Rumah sakit ini, Rumah sakit yang setiap hari berbohong padaku untuk mempertahankan pasiennya agar tidak pergi dan mencari Rumah sakit lain….

Malam itu terasa sangat panjang, Ibu terlihat begitu gelisah, aku tidak tau ia tidur atau tidak, aku tidak tau ia mengigau atau berbicara dengan sadar, kadang ia menghentak-hentak kan tangan ke tempat tidur, membaca Alfatihah, surat-surat pendek, dan bacaan sholat yang meluncur keluar begitu saja dari bibirnya, kadang ia menyebut ibunya, kadang ia menunjuk dan berkata “ ada orang , 2 orang “…dalam hati, aku bertanya..apakah ibuku sedang sakaratul maut ?…lalu aku pergi sholat dan berdoa, saat aku kembali duduk disampingnya aku melihatnya seperti setengah sadar, apa-apa yang diucapkan dan dilakukannya sudah diluar kendalinya…ia mengungkapkan isi hatinya, kadang ia marah, sedih, kadang ia berzikir, kadang ia mengaji, kadang menghentakkan tangannya ketempat tidur….aku lalu berusaha menuntunnya membaca lailahaillallah dengan suara keras mengimbangi gumaman-gumamannya….”la ilah ha..la ilah ha…. lailahaillallah” katanya……berkali-kali aku menuntunnya dan ibu langsung mengikutinya…sampai para perawat berdatangan kedalam kamar melihat apa yang sedang terjadi…kadang-kadang aku tertidur dan aku merasa ia marah padaku karena meninggalkannya tidur,. Namun akhirnya aku tertidur pada jam 2 dini hari, aku terkalahkan oleh rasa sakit disekujur badanku, saat itu aku tidak menyadari kalau aku sedang demam.

Pagi itu aku terbangun melihat ibuku begitu pulas, suara nafasnya tak lagi sulit, kudengar dengkuran kecilnya, kupikir ibuku tidur, aku lega melihatnya, ini tidur pertamanya setelah 1 bulan.….pokoknya hari ini aku harus mengajak ayahku membawanya ke Jakarta..pikirku…jam 7 pagi, perawat yang memeriksanya panik, “tekanan darahnya terus turun”, katanya, ” 60…50…40…” salah satu pergi memanggil dokter, lalu dokter jaga datang memberi kejutan listrik, 1 kali, 2 kali, 3 kali….aku tak peduli dengan mereka yang sedang sibuk, aku masih merasa yakin ibuku akan baik-baik saja, sampai…aku melihat kuku-kukunya yg merah jambu telah berubah menjadi biru, disitu aku baru menyadari….. ibuku telah pergi…. dan akupun mengerti mengapa semalam dokter menunduk dan pergi tanpa sedikitpun memberi solusi..

Kusimpan airmataku, aku tak ingin ayah, kakak, ataupun adikku melihat tangisku, aku tak ingin memancing kesedihan mereka, aku tau mereka menangis dalam hati, namun semuanya bersembunyi dibalik diam, dan kata-kata yang menghibur diri. Hanya bila dalam sunyinya malam dalam  doa-doaku, kubiarkan air mengalir disudut mataku. bukanlah karena  kepergianmu yang kusesali..ibu…, bukan pula takdirNYa yang kutangisi, semua hanyalah karena hatiku yang merindu….., dan kekhawatiranku akan hidupmu yang baru disana…,serta  rasa iba pada adikku yang masih kelas 3 SD…ia tak menangis didepanku.., tapi aku tau dari sembab matanyanya  setiap pagi, ia telah puas menangis tadi malam.
Dulu aku bersembunyi dan menghindar dari orang-orang yang menanyakan sakit ibuku…rasanya seperti mengorek-ngorek lukaku yang masih basah, namun kini aku ingin berbagi agar bisa diambil faedahnya, bahwa merokok bukan hanya meracuni diri sendiri, namun menyuguhkan racun itu untuk orang-orang yang kita cintai, dan mungkin sulit untuk disadari hingga mereka telah pergi….kita mungkin merasa sehat, namun orang-orang disekitar kitalah yang harus menanggung akibatnya.